Home / Khotbah / Ayah Menunggumu Pulang !

Ayah Menunggumu Pulang !

Aku ceritakan sepenggal kisah ini.. kisah tentang hidup guwe (mungkin juga ini hidup elo juga…)

Luk 15:17-19  (17) Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.(18) Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, (19) aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Banyak pendosa bertobat setelah ia mengamati keadaan sekitar hidupnya dan melihat keadaan dirinya, saat itulah dia berada pada ‘jalur pulang’ ke rumah Kasih Karunia. Dia sadar dia perlu keselamatan. Jika seorang pendosa merasa tidak perlu keselamatan, maka dia tidak akan peduli dengan apapun tentang keselamatan. Tapi sekali dia sadar, maka dia mempertimbangkan apa saja agar dirinya selamat….

Tapi jika kamu ngobrol dengan seorang pendosa, maka biasanya dia bisa menjelaskan ‘ide-ide’ tentang konsep keselamatan versi pendosa itu sendiri. Tuhan memang punya konsep keselamatan, tapi pendosa juga punya konsep keselamatannya sendiri! Tiap orang punya konsep sendiri tentang keselamatan dan tiap orang bisa menganalisa, mengamati dan mengevaluasi hidupnya masing-masing.. ini termasuk juga dengan cerita tentang anak bungsu yang terhilang ini…..

Setelah minta harta Ayahnya, ia pergi maen pelacur, foya-foya dan akhirnya jatuh miskin…..; cerita selanjutnya mengisahkan dia memutuskan pulang! Dia membayangkan ketika dia akan bertemu Bapanya dia akan menjumpai seorang Bapa dengan wajah penuh amarah, kejam dan menakutkan. Untuk mengantisipasi hal itu, dia siap-sedia dengan sebuah jawaban ala pendosa : “sori Babeh, duit guwe udah habis, hidup guwe sekarang nggak berguna lagi. Nggak karuan. Guwe susah. Guwe salah. Tapi guwe juga tahu guwe punya Babeh yang kaya raya..makanya guwe bisa nrima kalo guwe pulang sekarang dan gue nrima mau dijadikan pembantu, itu udah cukup kok…” (sambil terisak-isak sedikit, buat ngambil hati Babeh nya…)

Dari sudut pandang seorang pendosa : keselamatan bukan bicara tentang menjadi seorang anak, tapi seorang budak ! (ini konsep dalam pikiran pendosa…ato orang yang buat kesalahan/pelanggaran…)

Konsep keselamatan seorang pendosa begini : Guwe harus memberi orang lain (kepada siapa guwe bersalah/berdosa) memberi apa yang orang itu inginkan ato disukai dan kemudian Guwe berharap menerima ‘sesuatu’ sebagai imbalannya. Entahkah itu pengampunan, dimaafkan dan sejenisnya. Nilai dari pemberian pendosa ini adalah juga nilai imbalan yang akan dia terima dari orang lain itu. Dan imbalan yang dimaksud adalah : dengan menjadi budak, dan bukan anak !

Sekarang baca ayat 20-22…

(20) Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (21) Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. (22) Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.

Anak  bungsu itu memutuskan pulang kembali ke rumah Ayahnya. Ketika dia lihat wajah Ayahnya, dia siap-siap untuk mengatakan ‘pengakuan dosa’ yang sudah dilatih dan dihafal sebelumnya… Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa…

Hmmmm….

Tapi Ayahnya bilang, *eh malah ngajak ngomong sama budak-budaknya. Kalimat selanjutnya dimulai dengan frase: tetapi ayah itu..  Saya senang dengan frase TETAPI Ayah itu… dahhhhsyat !

 Keselamatan sejati selalu berdasarkan konsep ‘sang Ayah’ dan bukan ‘sang anak hilang itu’. Keselamatan yang benar bukanlah tentang konsep kita. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang diselamatkan menurut konsepnya sendiri ! semua orang diselamatkan dengan konsep keselamatan Allah! Semua diselamatkan dengan cara Allah! Konsep keselamatan anak bungsu itu hanya pulang..terus jadi ‘budak’, trus jadi ‘hamba’.. begitu juga kita. Pikiran kita selalu  dipenuhi dengan banyak ‘aturan keselamatan’, yang berisi apa yang harus kita lakukan dan tidak lakukan serta apa yang bisa kita terima melalui apa yang kita lakukan… ini konsep kita, bukan konsep Allah!

Akhirnya, anak bungsu itu mengatakan ‘hafalan pengakuannya’ itu. Tapi ketika ayahnya memeluknya, kalimat “jadikan aku budak/hamba..” tidak sempat dikatakannya!

Hatinya dipeluk kasih Bapanya!

Sebenarnya kalo kita baca secara seksama cerita ini, dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya itu karena Bapa nya lebih dulu meng-INTERUPSI-nya. Ini bukan karena dia tidak ingin mengucapkannya ato lupa ‘hafalannya’ itu… ini INTERUPSI KASIH ILAHI !! Ayahnya sudah mendengar.. dan Ayahnya merasa pengakuan itu SUDAH CUKUP.. Ayahnya tidak memberi kesempatan anak bungsu itu melanjutkan pengakuan dosanya… tidak

Dengan cepat ia berkata pada hamba-hambaNya: “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.”

Keselamatan berbicara tentang bagaimana Allah ingin ‘memperlakukan’ kita, dan bukan tentang bagaimana seharusnya Allah merespon usaha kita. Menurut kita sebagai pendosa, keselamatan itu memposisikan kita sebagai hamba. Ketika kita mengingat Tuhan, kita mikir kalo kita ini pendosa, tetapi disisi Allah Dia tetap melihat kita sebagai seorang anak. Kita merasa patut untuk dihukum, tapi menurut Allah kita patut ‘dijamu makan’. Kita bahkan enggak sanggup mikir sebuah permintaan lebih tinggi dari status sebagai hamba, tetapi Allah selalu melakukan lebih banyak dari yang bisa kita pikirkan.

Saat anak bungsu itu berjalan pulang dengan tertunduk lesu, saya percaya tidak terlintas dibenaknya tentang jubah, cincin, sepatu..atau bahkan anak lembu tambun! (di otaknya Cuma ada gini: dimaafin aja udah cukup kok…) Ini menunjukkan bahwa keselamatan itu adalah demonstrasi kekayaan Allah dan bukan demonstrasi kemiskinan kita! Keselamatan menunjukkan betapa Allah itu KAYA!

 

Anak bungsu itu baru pulang dari pesta pora, tapi ketika ia pulang, Ayahnya memberikan jubah mahal. Ayahnya tidak takut anak itu menjual jubah itu! Ayahnya memberinya CINCIN dan tidak takut anak bungsu itu menjual CINCIN itu! Ayah itu memberinya KASUT dan tidak takut anak bungsu itu tidak memakainya atau diberikan sama teman-temannya. Sobat, kita punya Ayah yang punya kekayaan terlalu banyak untuk dihabiskan sepanjang usia kita.

Ayat 23 “Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita…”

Perhatikan ini : Jubah, cincin dan kasut hanya untuk dinikmati oleh Anak bungsu itu sendiri. Iya kan? Jubahnya ya untuk dia pakai sendiri, cincin juga untuk jarinya sendiri termasuk kasut (gak mungkin kan dipake rame-rame…hehe…). Nah, bagaima kalo seekor anak lembu tambun (catat: lembu tambun, bukan lembu diet, ato kurus!). seekor lembu tambun gak mungkin dimakan anak itu sendirian, bisa muntah-muntah kekenyangan dia? ^ ^

“marilah kita makan dan bersukacita…” 

Wow! Ayahnya bilang : “bikin pesta yuuuks…” banyak orang nggak tahu bahwa Allah pun suka bersenang-senang… Ketika seorang pendosa bertobat, perhatian kita lebih sering focus pada pendosa yang mengalami sukacita pertobatan. Tetapi jangan lupa, Allah lebih bersukacita terhadap pertobatan pendosa itu.

Perhatikan sikap anak yang sulung yang salah mengerti tentang Ayahnya : “Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”

Anak sulung mengira bahwa Ayahnya alergi dengan pesta suka-suka, dengan hal senang-senang… dan itulah kebanyakan orang melihat seperti apa Allah itu.

Allah senang berpesta !!!

Sekarang lanjut ayat 24 “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.”

 Allah berkata supaya kita bersukaria..bersukacita!! apa alasannya? Ada 2 hal mengapa PESTA itu diadakan…. Yang pertama bahwa anak itu telah mati dan menjadi hidup kembali.. dan yang Kedua adalah bahwa anaknya telah hilang dan didapat kembali. Inilah alasan untuk bersukacita dalam pesta… mati dan hidup kembali adalah bagi si anak bungsu, tetapi hilang dan didapat kembali adalah bagi si Ayah. Anak bungsu itu memang adalah anak dari ayahnya itu. Ini Fakta! Nah, setelah “mati” sekarang dia “hidup” kembali, dan dia tetaplah anak. Tidak berubah FAKTA itu…

Manusia diciptakan langsung oleh Allah, kemudian manusia jatuh dalam dosa dan mengalami kematian. Ketika Yesus datang untuk menebus manusia, maka manusia itu menjadi HIDUP kembali. Ini adalah tentang mati dan hidup kembali!! Inilah sebenarnya yang harus mendapat FOKUS/PENEKANAN dari setiap pemikiran kita. Fokus pemberitaan sekarang malah lebih banyak membahas Hilang dan Ditemukan kembali… disini terjadi kesalahan focus dalam melihat hal-hal ini… Hilang dan didapat kembali adalah domain Allah, bukan domain kita!

Dalam Lukas 15 ada 3 perumpamaan dan semuanya tentang HILANG : Domba yang hilang, Dirham yang hilang dan anak yang hilang! Coba pikirkan sejenak tentang 3 perumpamaan beruntun tentang KEHILANGAN ini… Coba rasakan apakah yang dialami Seseorang yang mengalami kehilangan-kehilangan seperti ini???

Kita berpikir domba yang hilang itu domba yang malang, mungkin dia tersangkut disemak duri, tersesat di batu cadas ato terpisah dari kawanan domba lainnya. Kita lupa bahwa SESEORANG yang mengalami perasaan kehilangan itu adalah GEMBALA itu! Yang menderita kehilangan GEMBALA itu! Yang ‘malang’ Gembala itu!

Kita berpikir tentang Dirham yang hilang, tapi lupa bahwa perempuan yang punya dirham itulah yang mengalami kehilangan dan menderita karena kehilangan dirham. Dan akhirnya di perumpaan ke-3, kita juga berpikir tentang anak bungsu yang menderita karena miskin dan kerja di kandang babi.. tetapi poin pentingnya kita lupa : Siapa sebenarnya yang memiliki anak yang hilang itu? Dia itu adalah Ayahnya!!!!!!!!!

Ayahnya yang ‘malang’, Ayahnya yang ‘menderita’. Ayahnya telah menghabiskan banyak harta untuk menyekolahkan anak itu, memberikan hatinya selama mendidiknya sejak kecil, memberi makan, merawat dan membesarkannya… sampai suatu hari anak itu pergi ke kota yang jauh…..dan terhilang!!!

 

(dapatkah elo merasakan hatiNya saat ini…….)

 

Itulah sebabnya Ayahnya berkata : Anakku TELAH HILANG dan DIDAPAT kembali…….!!!!! Pernahkah kita berpikir sungguh-sungguh bahwa ketika kita taat dan kembali ‘pulang ke rumah’ Ayah…itu menyenangkan hatiNya????

Ini pesen guwe buat elo : Ayah menunggumu pulang….  ;=)

 

(have a nice trip when u’re going home….)

About admin

Check Also

COMEDY KALAHKAN KOTBAH, INI BUKTINYA…

Saya punya sebuah data yang harus dibaca oleh… saya sendiri dan mereka yang mengaku dirinya …